Monday, August 27, 2018

My Love Story : Jodoh Itu Sejauh Mana Kau Kejar


Jika kamu yakin dia orang yang tepat, jika kamu yakin dia adalah pilihan hatimu, jika kamu yakin bahwa bahagia dan sedihmu adalah saat bersamanya, maka perjuangkan hatinya dan dirinya sampai saat dimana kamu harus ikhlas melepas kepergiannya dari dirimu.

Yakinlah bahwa selalu ada kemudahan di setiap kesulitan. Bersabarlah karena jarak antara kesulitan dan kemudahan itu sangatlah dekat. Kemudahan akan selalu ada dibelakang kesulitan, ia selalu mengikuti kesulitan sehingga ketika sudah waktunya maka kemudahanlah yang akan menggantikan perannya. Kalimat penyemangat tersebut yang menguatkanku di saat aku tak percaya lagi dengan kata cinta, percaya dan bahagia.

Naga Emasku menyayat hatiku

Aku jarang mengumbar kemesraan di sosial media dengan orang yang ku cinta. Dia yang ku jaga hatinya selama 7 tahun. Waktu yang tak sebentar untuk masa pacaran. Jarak yang menjadi penghalangku untuk selalu bersamanya. Jarak juga yang ku rasa membuat ia jenuh padaku. Sudah ku coba segala cara, ku sayang, ku beri perhatian, bahkan beberapa laki-laki datang menawarkan cintanya padaku, ku katakan hatiku sudah dimiliki. Padahal nyatanya untuk bertemu dia rasanya sulit sekali. Naga Emas, julukan yang ku beri untuknya, gagah perkasa.

Sebenarnya tak jauh menurutku Batam dan Tanjung Balai Karimun. Namun yah kalau memang tak niat bertemu, jarak 5 meter pun terasa jauh. Aku berpacaran dengan dia, Eko namanya sejak ia mulai pendidikan dasar (diksar) di salah satu Institut ternama yaitu Institut Pemerintahan Dalam Negeri yang sering disingkat IPDN. Suka duka kami lewati, bahkan kalau ada skala ukur mungkin akan tergambar bahwa dukanya lebih banyak dari sukanya. 

Jarang bertemu salah satunya. Karena ia menempuh pendidikan di Jatinangor yang jauh dari kota asalku yaitu Batam. Lagi pula ia hanya bisa pulang saat liburan, ya sekitar 6 bulan sekali. Dengan masa pendidikan 4 tahun. Bayangkan! berapa frekuensi kami bertemu. Ia selalu protektif, jika ada waktu ia akan menelpon sekedar menanyakan kabar, menyapaku dengan sebutan sayang dan akan marah jika aku pergi ke suatu tempat tanpa melapor padanya terlebih dahulu. Bahkan kawan-kawan sampai hapal dan sering meledekku. "Rom gak lapor dulu sama Pak Camat, ntar dia ngamuk" ujar kawan-kawanku. Haha sebenarnya aku anak mandiri dan bebas, orang tuaku tak pernah melarangku pergi kemana saja selagi itu bukan tempat yang negatif. Sebelum mengenal Eko pun aku sudah melalang buana keluar kota untuk ikut pertandingan karate. Tapi aku tetap menghargai, mungkin itu salah satu bentuk perhatiannya padaku.

Jujur ia baik sekali, aku cerita setiap masalahku, begitu juga dia. Saling support dalam setiap kegiatan. Mengingatkanku shalat dan belajar."Hubby" sebutanku untuknya dan Wifey panggilannya untukku. Ia selalu memujiku, mengatakan "Hubby bangga punya Wifey yang pinter, mandiri dan bisa apa aja". Dia yang selalu ku kabari setiap kali aku mendapat beasiswa, menang dalam pertandingan, atau pekerjaanku dipuji oleh atasanku.

Aku sudah berpacaran dengannya sejak 2011. Hmm lama ya guys. Ini udah 2018.Yah bisa dibilang 7 tahun lah ya. 2018 dikurang 2011 kan jadinya 7. Pertengahan 2017 rasanya sudah mulai hambar, ia menelpon hanya sekali sehari sekedar bertanya "Sudah makan? lagi dimana?". Buset aku salah apa coba, disayang-sayang, dibantu susahnya dari awal pendidikan. Sampai pernah tuh ya dia mau ngerjain tugas, gak bisa internet. Ku kirimi dia modem 2 buah biar dia bisa ngerjain tugas. Padahal ya aku di sini numpang Wi-Fi kampus mulu. Biarlah asal dia gak susah. Nah pas sudah jadi pns juga pernah ku bantu beberapa bulan dia tidak dapat upah karena ntahlah apa ya urusan pemerintah. Intinya ku bantu dia seadanya agar dia bisa tetap hiduplah intinya.

Nah lupa kan tuh aku jadinya mau cerita. Jadi pertengahan 2017 sampai Mei 2018 (ulang tahunku), dia sudah tidak perhatian, di sms gak balas, dichat gak balas, katanya jarang pegang hp. Terus juga jarang nemuin aku. Sekitar 7 bulan dia tak datang lagi menemuiku, alasannya dia tak punya uang, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-harinya. Pernah suatu malam aku kangen sekali dengannya, ku minta untuk video call. Jawabnya ketus "Udah malam loh, kayak anak-anak aja sih". Sedih dong ya. Lalu insting CIA ku mulai tergubris. Aku iseng cari-cari nama pacarku itu di instagram. Dia anti sosial media. Gak punya akun instagram gitu. Nah ketemu tuh namanya di instagram. Nama lengkap loh, dan profilnya muka dia dengan cewek. Syok kan aku, tapi gak bisa liat feednya karena diprivate akunnya. Yaudah aku follow karena penasaran. Paginya diaccept, dan ternyata saudara-saudara, itu IG cewek. Dan apalagi coba namanya kalau punya pacar tapi fotonya dengan cewek lain, selingkuh kan sudah pasti. 

Seperti tersambar petir, lemas badanku. Tak bisa diungkapkan rasanya. Seketika aku tak percaya semua orang, yang ku percaya hanya orang tuaku. Aku konfirmasi ke wanita tersebut, benar dia memang sudah menjalin hubungan dengan Eko sekitar 1 tahun dan ternyata kata wanita itu, mereka sering ke Batam sekedar untuk nonton bioskop atau jalan-jalan. Sakiiiiit woooooooi. Lalu aku juga meminta jawaban dari Eko, dan benar dia selingkuh. Aku nangis sesegukan dan bilang padanya "Jelas aja gak perhatian, gak mau pulang, udah ada yang baru di sana". Eko sesegukan meminta maaf sambil nangis. Ku bilang padanya "Tak usah minta maaf, mana hatimu ha, Kau yang kewajiban serta sunnahmu tak pernah tinggal bisa berbuat seperti ini, orang seperti apa lagi yang bisa ku percaya". 1 jam aku menangis tak henti, berteriak seperti orang gila. Dadaku sesak, ku telpon papaku, "Pak, Eko selingkuh Pak" sambil teriak dan menangis seperti anak kecil ditinggal ibunya. 

Tempat kerja orang tuaku lumayan jauh dari rumah, mereka pulang seminggu sekali. Seketika mendengar aku seperti itu mereka pulang ke rumah. "Jangan tangisi dia nak, Kau tak pantas menangisi orang yang tak tahu berterima kasih seperti dia" Papaku geram. "Mama yang melahirkanmu membesarkanmu bahkan tak sanggup membuatmu menangis, akan ada balasannya nak, serahkan semua pada Allah, Kau baik, dia tak pantas untukmu" ucap mamaku sambil menangis melihat putrinya menangis. Bahkan sampai saat ini mamaku cerita tentang kisahku ke saudara atau temannya sambil menangis sesegukan. Teganya kau orang lain membuat orang tuaku menangis.

"The reason Allah allowed him to walk away is because you prayed for a good man, and he wasn't it"

 Jodohku 5 langkah

"Demi menyelamatkanmu dari orang yang salah, Allah mematahkan hatimu"

Ku tangisi dia 2 hari, hingga mataku bengkak seperti habis dipukuli. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku pernah mengatakan sesuatu yang konyol kepada sahabatku Rani. Haha aku tertawa tanpa sadar padahal sedang hancur.

Akhir 2017 aku resign dari perusahaan lamaku dan memulai karirku yang baru pada awal 2018. Keputusan yang berat untuk resign dari perusahaan pertamaku, karir pertamaku, bahkan aku sudah diangkat permanen di sana. Tapi aku masih ingin mengejar karir yang sesuai passionku. 

Tak lama setelah aku resign ternyata ada lagi yang resign yaitu Dia, yang akan menjadi tokoh utama dalam kisahku ini. Ipan namanya, karena umurnya di atasku, dari dulu aku memanggilnya Mas Ipan. Wong jowo rek. Dia merupakan Supervisor di Departemen Quality Assurance. Sudah permanen di perusahaan tersebut, kalau tidak salah sudah 7 atau 8 tahun di perusahaan itu. Kalau salah maaf ya mas haha.

WhatsAppku berbunyi, chat dari Ferdi kawan dekatku. "Dek dimana? ada kosan gak deket-deket rumahmu?". "Ada bang banyak di sini, buat siapa?" Jawabku. "Ada kawan abang mau kerja di Kabil, jadi mau cari kosan deket-deket situ". "Yaudah sini ntar ku bantu carikan" jawabku dengan cepat.

Sampailah Ferdi di rumahku bersama Mas Ipan. "Kok sama Mas Ipan bang? yang mau cari kosan siapa?". Mas Ipan yang menjawab "ada kawan mas, cuma orangnya belum di Batam, dia mau ngekos deket-deket sini". Akhirnya kami keliling komplek untuk survey kosan. Dapat nih kosan yang harganya lumayan murah, lengkap dengan kamar mandi dalam.

Akhirnya deal dan balik lagi ke rumahku untuk ngobrol-ngobrol. Lalu Mas Ipan mengaku "sebenarnya Mas Ipan yang mau kos roma". "Lah kok mas?" kaget ya kan. "Iya Mas Ipan resign dari kantor". "Hahaha resign juga mas?" aku terbahak-bahak mendengar ada yang senasib. Okaylah, itu kosan jaraknya 3 rumah dari rumahku, ada geng baru pikirku.

Ngobrol panjang lebar tentang karir, hidup dan lain-lain bertiga hingga lupa waktu. Sudah tengah malam juga. Akhirnya mereka pulang dan otakku bekerja. Aku chat sahabatku Rani, "Ran Mas Ipan baik ya, pinter, karirnya juga bagus, dan kalau dari pendapat seisi perusahaan tak pernah ada kata negatif tentang dia. Ran ran, misal nih aku gak jadi sama Eko, aku ajak dia nikah mau gak ya?". "Ko bakal bahagia kak kalo sama Mas Ipan, pegang kata-kata aku"dengan percaya diri Rani menjawab pertanyaanku.

Yah itu ide gila sih, Januari 2018 aku cerita hal konyol itu ke Rani tapi setelah itu pun aku tak pernah chat atau berusaha mendekati Mas Ipan, aku punya Eko. Masih pacaran dengan Eko. Jujur aja aku sudah mencium bau perselingkuhan sejak pertengahan 2017, tapi aku masih menampik pikiran negatifku itu. Yang ku pikir adalah, aku tak ingin menyakiti orang. Toh dia gak salah gak jahat masak iya minta putus karena sifatnya yang berubah drastis, lagian aku sudah berjuang 7 tahun menemani dia, aku ingin menemaninya hingga akhir hayatku. 

Tragedi perselingkuhan terungkap tepatnya tanggal 20 Mei 2018, 5 hari setelah ulang tahunku. 2 hari setelah itu aku chat Ferdi tanpa berpikir panjang. "Bang, Mas Ipan udah ada calon belum?". "Kayaknya sih belum, kenapa dek?", tanyanya balik penasaran. "Mau gak ya dia diajak taaruf?", gila ya aku. "Taarufan sama siapa dek", Ferdi semakin penasaran. "Sama aku bang", jawabku lantang. "Buahahahaha", dia tertawa terbahak-bahak. "Luar biasa dek, ini cewek idaman banget", memujiku.

Lalu tanpa jeda langsung ku chat mas Ipan. Aku ngechat Mas Ipan sekitar 4 bulan dari kami ngobrol nyari kosan. *chatnya yang aku inget aja ya guys.
Me : Mas apa kabar? masih di kosan deket rumah? Kok gak pernah keliatan (basa-basi woi)
Mas Ipan : Sehat alhamdulillah, masih di kosan aja.
Me : Kita mantai yuk sama Bang Ferdi, Mas Tono, Rani, Bang Tondi, Bang Dani.
Mas Ipan : Yang lain sih oke tapi si Dani udah punya buntut, kasian ntar dia ribet.
Me : Haha iya ya, Mas Ipan sendiri udah punya buntut? (kode sedang)
Mas Ipan : Buntutnya udah dijadiin sop buntut haha, Mas gak punya buntut lah.
Me : Kalo taarufan mau gak ? (ngetiknya jantungan)
Mas Ipan : Sama siapa ? (sumpah ini dia jawabnya lama, parah, aku deg degan loh)
Me : Bismillah, Mas Ipan Roma mau ngajuin diri untuk taaruf sama Mas Ipan. (otakku ilang)
Mas Ipan : Serius kamu ? Mas jantungan ini
Me : Eh jangan jantungan Mas, ntar aku nyari lagi (dah pede aja ya kan)
Mas  Ipan : Mas maunya serius, kalau kamu memang serius yaudah kita ketemu dulu.
Me : Btw aslinya aku gak tau caranya taaruf.
Mas Ipan : Iya mas juga sih, kamu luar biasa.
Me : luar biasa apa gesrek mas.
Mas Ipan : imbang-imbang gitu lah. *somplak dia ngaku aku gesrek.

Singkat cerita kami ketemu dan dia memastikan bahwa aku tidak bercanda. Aku memang serius, aku sudah hancur sehancur-hancurnya. Yang ku pikir bukan cinta, asal dia baik, agamanya baik dan rajin bekerja, aku siap jadi istrinya. Toh aku juga gak sembarangan pilih orang, aku tau dia bagaimana. 2 tahun aku kenal dia di perusahaan lama, memang tak dekat sih, tapi aku tahu pendapat semua orang di perusahaan tentang dia tak pernah negatif. Baik, sopan, pintar, mapan, tak pernah berniat keganjenan dengan cewek, dan selalu jadi ketua panitia setiap ada kegiatan di perusahaan.

Setelah itu kami lanjut dengan chating dan komunikasi. Bukan taaruflah intinya, jawaban dia "jalani aja". Okaylah kalau begitu. "Kalau serius Mas datang temui orang tua kamu nih". Beberapa hari setelah itu dia ke rumahku dan bertemu orang tuaku. Sebelumnya sudah ku ceritakan latar belakangnya ke orang tuaku. Orang tuaku langsung suka dan oke. Dinasehatilah ya kan Mas ini lalu papaku bilang asal Romanya oke, saya sebagai orang tua juga oke. Silahkan bawa orang tuamu untuk melamar. Buahahaha cepet ya.


Aku pernah meledek Mas Ipan seperti ini :
Me : Mas menang banyak ya, didatangin cewek langsung ngajak nikah.
Mas Ipan : Hahaha dia nih, mas memang berdoa sama Allah, datangkanlah aku wanita yang bisa menerimaku.
Me : Emang rencananya mau nikah kapan sebelum Roma datang ?
Mas Ipan : Ya tahun ini.
Me : Lah kan gak ada calonnya
Mas Ipan : Lah ini kamu datang, pas kan.


Hahaha kocak sumpah, aku tak berhenti ketawa mendengarnya.

Ada sekali dia yang nanya nih.
Mas Ipan : Dek kok kamu mau sama mas? berani banget cewek ngajak cowok nikah?
Me : Rugi ada orang baik dianggurin, daripada disamber orang, mending gue gas. Hahahaha

Lalu suasana sudah mulai cair, aku sudah mulai bisa cerita ke dia.Tapi aku pernah bilang ke dia. "Mas aku trauma, aku sudah tak punya hati, maaf kalau aku agak keras" lebih baik aku jujur daripada dia tahu belakangan dan menyesal. Lalu lambat laun dengan perlakuannya yang baik, tutur kata yang sopan namun tetap santai, tak pernah marah atau merajuk, jika aku marah ia hanya diam hingga aku selesai marah, hmm kebalikannya mantan sebenarnya yang bakal marah balik kalau aku marah. Aku mulai bisa menerimanya. Lucunya dia bilang sayang padaku. "Mas sayang banget sama adek, adek belajarlah sayang sama masnya". Buahaha padahal yang ngajak nikah duluankan aku ya, kok aku agak gak tau diri ya. Tapi inshaallah aku akan bisa sayang dan mengumpulkan serpihan hati yang sudah remuk ini.

Lamaran

Kami mulai mempersiapkan acara lamaran, segala keperluan mulai dari menentukan tanggal, briefing keluarga masing-masing, hantaran,dekorasi dll. Awalnya mau acara sederhana aja dengan mempertemukan keluarga dan teman dekat. Ternyata eh ternyata teman dekatku sekitar 70 orang haha. Lah sudah jadi acara besar. Alhamdulillah banyak yang membantu. Terima kasih jagoan-jagoanku yang membantu mempersiapkan acara lamaran hingga sukses.

Lega setelah menjawab menerima lamaran
Foto bersama keluarga kedua belah pihak
Nah satu hal yang lucu adalah teman-teman dari perusahaan lamaku sangat kaget mendengar berita bahwa aku dilamar oleh Mas Ipan. Bagaimana tidak, dulu aku paling anti bertemu dengan Quality Assurance, eh sekarang malah mau jadi calon istrinya. Ada beberapa teman dekatku dari perusahaan lama yang kuundang, mereka pun sentak kaget haha. Acara lamaran berlangsung jam 10 pagi hingga jam 1. Jam 2 grup dari perusahaan lamaku sudah heboh, kami menjadi trending topic dan dimintai konfirmasi atas acara lamaran tersebut. Haha ini gara-gara Mbaknya Mas Ipan tag foto lamaran kami di Facebook Mas Ipan. Ya pada tahu yak, kan temennya Mas Ipan orang-orang dari perusahaan lama semua, nah setelah itu teman-teman yang melihat dari Facebook Mas Ipan share ke semua grup perusahaan lama, dan lagi teman-teman pada update di Instagram Story, hahaha berhasil, bisikku dalam hati.


Tim Sukses, gak lengkap sisanya ada di foto bawah
Foto bersama teman-teman dekat
Aku memang tak ingin orang tahu sebelum hari H lamaran tentang hubungan kami. Aku memang berniat mengumumkan hubungan kami secara resmi saat lamaran. Btw 2 bulan ngajak taaruf, eh langsung lamaran. Cepet ya. Sampai disindir Bang Dani "ada tuh yang nunggu bertahun-tahun, putus juga", dasaaaaaaar Bang Dani, aku dihinanya.
Hasil karya tim sukses, hantaran, dekor, make up.
Persiapan

Alhamdulillah acara lancar dan hikmat. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyukseskan acara ini. Semoga kalian semua diberkahi Allah SWT, amiiiiin. 

Nah ini dia rangkuman acara lamaranku, cekidot.

No comments:

Post a Comment